Sabtu, 26 Maret 2011

temanku mati kemarin sore


telah kau peram dalam malam,
berbenih-benih kenangan yang akan mengalirkan air mata pada telaga angan
mawar bulan berkilau mengiring lawatanmu jadi gairah pertemuan pada Sang peniup ruh
sebab pukau mawar bulan, itu kau lalai menjadi sia-sia hayatmu
gumulan hidup matimu
mengelupas hari-hari sejenakmu
pukauan mawar bulan menujum
untung-malangmu
berayun pada dua telaga
Aku dengar musik kematian lamat-lamat menyanyi dari kedalaman jiwamu
Tiriskan saja kesia-siaanmu, kau orang punya jiwa
Mata menari seumur melodi, dan tidakkah kau merasa sekutumu menjauh? Dan kau pun ambruk dalam permainan ini
menarilah demi umurmu sendiri, demi waktumu, demi harimu, demi malaikatmu,

jalan akhir yang berliku
membuka puncak paling rahasia

semoga kamu damai di sana ...

1 komentar: