sudah beberapa purnama lewat di atas kepala. menuntunku yang kuat menggandeng rikuh jemari di antara belukar pematang tundra tanpa suara itu dan mengantongi bisu. tanpa perlu aku tanyakan mengapa engkau ada dan demi siapa kau mengada. purnama telah lewat, mencorengkan nama dalam kertas yang tak pula sempat kulumat. hanya kugelar di atas keramik untuk teman makan malam mu bersama kepundan. dalam suratku, telah kuhapuskan jejak, juga alamat rumah yang kini sudah tak akan kupijak dengan sepatu. aku akan membawa pergi serdadu hujan, yang di bawahnya, kita pernah bertukar nafas.
ada yang ingin kuraba dalam sisa perjalananku di tempat itu,di tanah yang masih basah dan mengerti bagaimana yang namanya sakit telah di ajarkan oleh mereka, dan tangis hanya sebagai tontonan dan cibiran. lalu kemanakah langkah selanjutnya. semua tampak manis saat keadaan seperti baik. namun berubah saat mereka tak mendapatkan apa yang di inginkan dan semua akan terbaca perlahan. rasakanlah kemudian beritahu aku. saat itu kemenangan akan ada kepada kita, senyum akan mengembang sebagai kepuasaan akan kekalahan dari semua.
kuharap kau takkan lupa, bahwa suatu nanti pasti kita akan mengayuh kaki-kaki renta.
demi menikmati bersama semangkuk senja jingga di langit barat,
namun tak terlihat apa pun ... selain bening di dalamnya ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar