Selasa, 22 Maret 2011

malam 3#

dan akupun perlahan terlelap setelah menyaksikan tubuh - tubuh yang mulai terkulai yang lelah, dan latah menyumpahi kenyataan setelah menyaksikan api, asap serta raung yang selalu betah menjahitkan kematian pada papirus papirus celana dalam. pada akhirnya aku pun juga dapat menyaksikan sepenuhnya pucat kuning bulan pada wajah - wajah mereka, pada wajah malam. ah .. apakah artinya hidup bila takkan menjumpa kematian dan tak bersua lagi dengan getirnya kelahiran?.


tanah malam ini, lalu aspal esok pagi berhenti menyisakan embun anggur dan uap air sebagai residu dari persetubuhan yang ragu dengan tembok tembok penyesalan. aku telah sampai .. aku telah berada disini, merasakan gurat - gurat mata mereka yang kedinginan, menunggu turunnya pelangi pelangi hitam. selimut merah yang tipis dan lusuh mengeluhkan dingin yang menurutmu semakin habis saja dimamah dingin angin. getarnya pelan dan lemah. seperti kesunyian yang rutin merangkak di punggung kota. aku diam .. aku hanya selalu diam.


kaki - kaki tampak lelah, sehabis menempuh perjalanan di sepanjang malam. yang dinginnya dimana nafas - nafas mereka tertanam pada alas kardus tipis. jangan pergi lagi… cukuplah aku kalian tinggalkan dalam ribuan kata dan malam-malam panjang. karena sepanjang waktu, kalian hanya bisa membakar rindu, atau menertawai rindu pada kehidupan lalu.


ah, hampir saja aku lupa ..
ini, kubawakan segelas kopi panas.

mari kita bersulang,
untuk Tuhan yang baik hati.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar