tanah ini merahnya serupa serak tenggorokan waktu
tanah ini sekumpulan jerit menilap hasrat hujan ....
dari sini darah memeram erangan selusin luka yang deras. dikirimkan angin-angin lalu lesap pada nadi. mendeburkan sejumput nyawa - nyawa yang diam. begitu abadi air mata berbicara dengan tetesan dan lirih doa. lalu perih hari mereka terjemahkan ulang menjadi harapan-harapan yang disampaikan melalui julur lengan angin bercampur debu pekat.
raga - raga yang belum habis mengunyah perjalanan mulai menyusun munajat-munajatnya pada ruang yang tak kita ketahui. munajat itu senyeri duri menusuk telapak saat sengaja tak beralas kaki.
aku tak ingin menerjemahkan pandangan lelaki renta itu, sesumir pendirian yang tertanam. sebab ada makna lain, yang lebih mendalam. taruhlah, kita jadi tahu bagaimana semestinya kita memegang amanah dan kepercayaan. akan ada yang terlelap dalam gerimis abu. seperti terakhir kali ia ucapkan, seketika hujan lebat berganti jadi gerimis dan ia benar-benar terlelap dalam sebuah riwayat.
seketika itu aku lupa menanam potongan-potongan kisah sebuah rasa, semisal amukan sang perkasa, hutan terbakar, atau maut yang sembarangan memainkan tangannya. seingatku seketika itu malam luruh begitu lamban, ada angin dengan gerak kosong saling bersahutan dengan nafas beratmu (barangkali dengan detak jantungmu?), tapi seketika itu waktu adalah hitungan mundur kepergian. dalam luruh doa terakhirmu sekali lagi waktu merambat dalam potongan-potongan amanah yang pernah tertanam lekat - lekat dalam sukmamu. kau tak ragu mengamini permainan usiamu demi sebuah keteguhan masa, tentang sebuah kesanggupan sumpah, tentang apa yang harusnya dilakukan setiap manusia yang mengaku dirinya lelaki.
"semestinya kita tidak pernah mengatakan Merapi akan meletus. Seharusnya kita mengatakan bahwa Merapi sedang akan membangun...." (Mas Panewu Surakso Hargo)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar