sedang diluar hujan merintik membocorkan kerinduan paling samar terhadap doa hutan, terhadap munajat sungai, terhadap kenangan - kenangan sederhana tentang masa kecil bersama layang - layang, enggrang dan permainan - permainan yang sekarang usang. kota ini meluncurkan perih lukanya ke arah tepian malam. pada musim yang selalu meleleh di halaman almanak. aku menghimpun masa lalu dan menerjemahkannya perlahan dengan sedikit debar dan keringat yang telah berkelindan. ternyata aku hanya menerjemahkan luka demi luka. dari setiap tikungan lebam sejarah. tubuh pun sesak seperti isi kepala setelah berjalan menjelajahi setiap sudut kamar dan lingkar jam dinding.
makanlah benih waktu yang berderap pelan di trotoar darahku.supaya luka tamat dalam diamnya yang paling sempurna. sebab setelah ini menit dan segala sesuatu yang sering mengadakan pertunjukan di balik jam dinding yang menguning, atau rasa yang belum tiba sekedar mengucap selamat atau salam padahal ranjang dan seprai telah kubersihkan dari sisa - sisa ritus penciptaan. kemudian kusulamkan angin dan kugantung di dinding kamar.
secangkir kopi melepaskan panasnya seperti perempuan melepas sehelai gaun dan memperbincangkan sisa kecupan - kecupan yang mengerak di masing bibir menguapkan rerambut musim. sisa kecupannya berwarna dinihari dan sisa kecupanku berwarna gerimis. bersama kita tuang dalam satu cangkir retak.
tiba - tiba bau kematian terasa begitu biasa
hingga tubuh menjadi sarang bagi potongan kisah,
yang belum rampung dilafalkan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar