aq hanya tahu ketika gerak air membawa seluang mudik menuju muara kehidupan masih merekat. bagai buah bekum yang membusuk di selasar antau, atau kebiruan hati para petualang yang aq temui kemarin. masih dapat aq terka di antara semangat jiwa2 mereka dan mata air menderas di telapak kaki mereka yang ditumbuhi lumut dan rumput liar. diantara pohon2 mereka telah tetaskan biji kehidupan bagai bulir padi dan dihamparkan ke muka suatu lembah dan padang terbuka. bulan merah mengintai malam ini. malam-malamnya yg di atas subur airmata menatap hutan yg tak lagi perkasa sementara mereka ingin sekali bermain di atas sisa2 ranting. sembari meluncur di antara gumpalan air yang melesat dalam gemuruh. aq akan berusaha setia menapaki sunyi belantara yg akan menjadi sisa. memikul segala yang tak terberita.
di antara yang demikian sesungguhnya siapa di antara kita yang berhasil mengalahkan kekeliruan?. sebab udara di seluruh lembah berharap menumbuhkan sebatang pohon dan menuliskan huruf-huruf yang memantulkan nama-Nya. masih segar aq ingat masa itu, alam lengang, langit rendah,bulan hanya bayang-bayang tergantung di pohon rimbun. hanya tanda tanya "siapa yang menguasai damai tempat ini". dan di telapak tanganq yang bersarung dingin kabut itu menghasutku "tetaplah di sini, meski kau terlalu asing dan kosong"
dan lagi2 aq hanya mengurung diri dalam germis dan menangisi apa yg terhampar
dengan sebuah mantel pemberian ibuku....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar